Skip to main content

Inilah Lima Kampung di Yogyakarta yang Jadi Tujuan Wisata Mancanegara

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Sebanyak lima kampung di Kota Yogyakarta, yaitu Dipowinatan, Cokrodirjan, Sosromenduran, Taman Sari dan Pandeyan siap menjadi destinasi baru wisata di wilayah tersebut.

"Ada 14 kampung yang muncul sebagai kampung wisata, namun yang telah siap dijual ada lima kampung, sisanya masih dalam proses pengembangan agar siap dijual dan menjadi destinasi wisata di Kota Yogyakarta," kata Kepala Seksi Pengembangan Obyek dan Daya Tarik Wisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta Bysry Romley di Yogyakarta.

Menurut dia, kelima kampung tersebut memiliki keunikan masing-masing. Dipowinatan, misalnya, mengandalkan urban tourism, Pandeyan dan Taman Sari mengandalkan wisata budaya, sedangkan Cokrodirjan mengandalkan eco tourism.

Dengan luas wilayah Kota Yogyakarta yang terbatas, lanjut Bysry, sangat kecil kemungkinannya untuk menambah obyek wisata baru, sehingga salah satu terobosan yang bisa dilakukan adalah dengan mengembangkan kampung sebagai tujuan wisata.

"Saat ini, wisatawan yang datang ke Kota Yogyakarta tidak hanya berkeinginan untuk melihat keraton atau tempat-tempat wisata lain, tetapi juga ingin menikmati kehidupan warganya dengan cara berinteraksi langsung," ujarnya.

Pemerintah, lanjut dia, akan membantu promosi kampung wisata tersebut dengan mengajak pengurus kampung dalam "travel dialog", sehingga bisa menceritakan secara langsung keunikan yang ada di kampung mereka.

"Kami juga telah mempromosikan kampung-kampung wisata ini ke sejumlah daerah seperti ke Aceh, bahkan ada kampung yang sudah dikenal sebagai Kampung Ceko, karena sebagian besar turis yang datang berasal dari Ceko, yaitu di Kampung Dipowinatan," paparnya.

Bysry juga mengatakan, pengelola kampung wisata tersebut juga mulai mempromosikan kampungnya melalui internet dengan membuat laman khusus. "Nantinya, laman khusus itu akan kami hubungkan dengan laman dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan," ujarnya yang juga akan mengundang pengelola kampung untuk membuat jejaring.

Selain lima kampung yang sudah siap dijual tersebut, terdapat sembilan kampung yang masih dalam proses persiapan, yaitu Kampung Kadipaten, Tahunan, Purbayan, Brontokusuman, Suryatmajan, Notoprajan, Karangwaru, Kricak dan Tegalrejo.

Sejumlah persiapan yang harus dilakukan untuk mendukung terciptanya kampung wisata di antaranya, kelembagaan, pembenahan potensi yang ada, penyiapan pemandu dan juga paket wisata.
Sementara itu, Anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Kota Yogyakarta yang juga Ketua Komisi C DPRD Zuhrif Hudaya mengatakan, kampung di Yogyakarta sangat kental dengan sejarah, sehingga sangat potensial dikembangkan menjadi destinasi baru wisata.

"Unsur sejarah yang bisa dijual adalah, bahwa kampung di Yogyakarta tersebut berhubungan erat dengan sejarah kasultanan," tuturnya. Pengembangan kampung wisata tersebut, lanjut dia, juga akan memberikan multiplier effect yang cukup banyak.


Translate Using Google Translate May Need Grammar Correction

This is the Five Villages in Yogyakarta So Destination Abroad

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - A total of five villages in the city of Yogyakarta, namely Dipowinatan, Cokrodirjan, Sosromenduran, Taman Sari and Pandeyan ready to become new tourist destinations in the region.

"There are 14 villages that emerged as a tourist village, which has been ready for sale but there are five villages, the rest are still in the process of development to be ready to be sold and become tourist destinations in the city of Yogyakarta," said Head of Development Objects and Tourist Attractions City of Culture and Tourism Office Romley Bysry Yogyakarta in Yogyakarta on Friday.

According to him, the village has a unique five each. Dipowinatan, for example, rely on urban tourism, and the Taman Sari Pandeyan rely on cultural tourism, eco tourism while relying Cokrodirjan.

With an area of ​​the city of Yogyakarta is limited, advanced Bysry, are much less likely to add new attractions, so that one of the breakthroughs that can be done is to develop the village as a tourist destination.

"Today, tourists who come to the city of Yogyakarta is not only desired to see the palace or other attractions, but also want to enjoy a life of its citizens in a way to interact directly," he said.

The government, he added, would help the promotion of the tourist village by inviting the village board in the "travel" dialog, so it can be told directly that there is uniqueness in their village.

"We have also promoted the villages of this tour to a number of areas such as Aceh, there is even a village known as Kampung Czech, because most of the tourists who came originally from the Czech Republic, namely in Kampung Dipowinatan," he explained.

Bysry also said the manager of the tourist village also began promoting the village via the Internet by creating a special page. "Later, a special page that we would associate with a page from the Department of Tourism and Culture," which he said would also invite the village to create a network manager.

In addition to the five villages that are ready for sale, there are nine villages that are still in the preparatory process, namely Kampung Duchy, Annual, Purbayan, Brontokusuman, Suryatmajan, Notoprajan, Karangwaru, Kricak and Tegalrejo.

Some preparations must be done to support the creation of village tourism in between, institutions, revamping the existing potential, preparation guides and tour packages.
Meanwhile, Member of the Prosperous Justice Party (PKS) Yogyakarta City Legislature who is also chairman of Commission C DPRD Zuhrif Hudaya said, the village in Yogyakarta is very thick with history, so it is very potential to be developed into new tourist destinations.

"The element of history that can be sold is, village in Yogyakarta that is closely related to the history of the Sultanate," he said. Development of the tourist village, he added, would also provide a considerable multiplier effect.

Comments

Popular posts from this blog

Matahari Godean Grup : Belanja Online via Whatsapp

Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat Jogjakarta umumnya dan masyarakat Godean khususnya dan untuk mempermudah belanja tanpa antrian  dan tanpa perlu datang ke toko maka Matahari Godean Grup ( Toserba Matahari Godean & Mth Fashion ) Jl. Saronodipoyo - Utara Pasar Godean membuka layanan Belanja Online via Whatsapp sebagai Berikut : Toserba Matahari Godean : Belanja Online via Whatsapp untuk kebutuhan sebagai berikut : Ringkasan Paket Sembako *dapat disesuaikan dengan kebutuhan anda (check via whatsapp) Mth Fashion : Untuk belanja Online kebutuhan Sandang/Fashion Keluarga, Untuk produk-produk bisa Anda lihat di Instagram : https://www.instagram.com/mth.fashion.online.shop/  (updated) Untuk Informasi Lebih lanjut bisa kontak Nomor Whatsapp masing-masing. Selamat Berbelanja secara Online | Jangan lupa informasikan ke keluarga dan rekan-rekan anda.

Partisipasi Pemilu 2019 Kota Jogja 84,9 Persen & Kulon Progo 86, 49 Persen

Yogyakarta (ANTARA) - Kota Yogyakarta mencatat tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu 2019 yang cukup tinggi yaitu mencapai 84,9 persen khususnya untuk pemilihan presiden dan wakil presiden. “Tingkat partisipasi tersebut melebihi target yang kami tetapkan yaitu 77,5 persen. Mungkin ini adalah tingkat partisipasi pemilu yang paling tinggi pernah diraih,” kata Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta Hidayat Widodo, di Yogyakarta, Kamis. Pada pemilihan presiden dan wakil presiden, KPU Kota Yogyakarta mencatat total jumlah pemilih yang memiliki hak pilih mencapai 324.903 orang, namun pemilih yang menggunakan hak pilihnya tercatat sebanyak 275.552 orang. Berdasarkan data, ada sebanyak 47.249 pemilih dalam daftar pemilih tetap (DPT) yang tidak menggunakan hak suaranya, sedangkan dalam daftar pemilih tetap tambahan terdapat 2.096 pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya, serta enam pemilih dalam daftar pemilih khusus yang tidak menggunakan hak suaranya. Ia pun berhara...

Ada Pesawat 'Lanjut Usia' Mendarat di Yogya

Yogyakarta - Sebuah pesawat tua mendarat mulus di Bandara Adisutjipto Yogyakarta. Karena bentuknya yang kurang lazim di era sekarang, pesawat Dakota DC3 ini menarik perhatian petugas bandara dan pengguna jasa bandara. Pesawat tua itu digunakan dalam napak tilas perjalanan bersejarah perempuan pilot legendaris, Jean Gardner Batten. Tanggal 5 Oktober 1936 atau 76 tahun silam, ia menerbangkan pesawat jenis tersebut dari Inggris ke Selandia Baru. Saat landing di Indonesia, pesawat singgah ke Yogyakarta dan Kupang. DC3 merupakan pesawat buatan Douglas Aircraft Company. Diproduksi tahun 1935, lalu mulai digunakan secara komersial setahun berikutnya. Pesawat ini juga digunakan dalam perang, terutama Perang Dunia II, Perang Korea, Perang Vietnam dan perang lainnya di berbagai belahan dunia pada rentang waktu 1930-1970-an. Pesawat dengan rentang sayap 28,96 meter dan panjang 19,63 meter itu tiba di Bandara Yogyakarta sekitar pukul 13.40 WIB. Meleset dari perkiraan semula, yakni 12.40 W...