Skip to main content

Ratusan Warga Yogyakarta Mlaku Mubeng Benteng

YOGYAKARTA--MICOM: Bencana demi bencana yang terus merundung beberapa daerah di Indonesia, mulai dari banjir bandang, gempa bumi, hingga gunung meletus, membuat masyarakat Yogyakarta prihatin.

Malam itu, Kamis (7/4), di Alun-Alun Utara Yogyakarta, tepatnya di depan Pagelaran Keraton Alun-alun Utara, ratusan masyarakat Yogyakarta, mengadakan ritual untuk memulai Lampah Ageng, atau sebuah ritual Mlaku Mubeng Benteng.

Sebelum Mubeng Benteng, ada sebuah tarian yang dibawakan dua orang penari, lelaki dan perempuan. Dan sebuah ritual memecah kendi di atas batu yang besar. Yang mengartikan bersatunya antara air dengan benda lainnya.

"Air itu akan meresap dan menyatu padu ke batu," kata Mbah Gondo, kordinator acara Lampah Ageng.

Lampah Ageng, atau sebuah ritual Mlaku Mubeng Benteng pada malam itu, mengambil tema Subawa Rasa Kaki Gunung Nini Jaladri, Gerakan Api Semangat Keistimewaan.

Menurut Mbah Gondo, diadakannya acara Mubeng Benteng ini sebagai bentuk keprihatinan warga Yogyakarta terhadap bencana yang terus-menerus merundung bangsa Indonesia. Hal ini dikarenakan unsur-unsur alam yang ada di indonesia tidak bisa menyatu.

Dengan berbagai ritual dan Mlaku Mubeng Benteng, keharmonisan antara unsur-unsur alam dapat bersatu dan harmonis lagi. Keharmonisan, lanjut Mbah Gondo, adalah menyatunya antara unsur api, air, dan angin, juga unsur lainnya.

Selain itu, Yogyakarta sebagai daerah yang istimewa, diharapkan mampu memberikan spirit keistimewaannya itu terhadap Indonesia, sehingga meresap kepada semua aspek. Keistimewaan universal, dari aspek pendidikan, kebudayaan, dan lainnya," kata Mbah Gondo.

Dalam acara tersebut, selain diikuti masyarakat Yogyakarta secara umum, juga hadir budayawan dan rohaniawan. Dan, meskipun malam itu, Yogyakarta diguyur hujan, ratusan warga Yogyakarta masih tetap melakukan ritual Lampah Ageng, atau ritual Mlaku Mubeng Benteng.

"Ini demi keharmonisan Indonesia, dari Yogyakarta, untuk keharmonisan Indonesia, dan keistimewaan Universal," kata Mbah Gondo. (OL-12)


Translate using Google Translate May Need Grammar Correction

Hundreds of residents Yogyakarta Walking around Benteng

YOGYAKARTA - MICOM: Disaster after disaster that continues to afflict several regions in Indonesia, ranging from flash floods, earthquakes, up to the mountain erupted, making the people of Yogyakarta are concerned.

That night, Thursday (7 / 4), in the North Square of Yogyakarta, precisely in front of the Exhibition Palace Square North, hundreds of people of Yogyakarta, held a ritual to start Lampah Ageng, or a ritual Mlaku Mubeng Fortress.

Before Mubeng Citadel, there is a dance that brought the two dancers, male and female. And a pitcher in the ritual breaking of a large stone. Which defines unification between the water with other objects.

"The water would seep into rock solid and unified," said Mbah Gondo, coordinator of the event Lampah Ageng.

Lampah Ageng, or a ritual Mlaku Mubeng Castle at night, taking the theme Subawa Nini Jaladri Mount Leg Pain, Movement of Fire Spirit of Privileges.

According to Mbah Gondo, the holding of this event as a form of Fort Mubeng concerns of Yogyakarta to disasters that constantly afflicts the nation of Indonesia. This is because the natural elements that exist in Indonesia can not be fused.

With a variety of rituals and Mlaku Mubeng Castle, the harmony between the elements of nature can be united and harmonious again. Harmony, continued Mbah Gondo, is the merging of the elements fire, water, and wind, as well as other elements.

In addition, Yogyakarta as a special area, are expected to provide the distinctive spirit of Indonesia, so that permeate to all aspects. Privileges universal, from the aspect of education, culture, and others, "said Mbah Gondo.

In the event, in addition followed in general the people of Yogyakarta, was also present cultural and clergy. And, though the night, rain Yogyakarta, Yogyakarta, hundreds of people still do Lampah Ageng ritual, or ritual Mlaku Mubeng Fortress.

"This is for the sake of harmony Indonesia, from Yogyakarta, Indonesia to harmony, and the privilege of Universal," said Mbah Gondo. (OL-12)

Comments

Popular posts from this blog

Matahari Godean Grup : Belanja Online via Whatsapp

Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat Jogjakarta umumnya dan masyarakat Godean khususnya dan untuk mempermudah belanja tanpa antrian  dan tanpa perlu datang ke toko maka Matahari Godean Grup ( Toserba Matahari Godean & Mth Fashion ) Jl. Saronodipoyo - Utara Pasar Godean membuka layanan Belanja Online via Whatsapp sebagai Berikut : Toserba Matahari Godean : Belanja Online via Whatsapp untuk kebutuhan sebagai berikut : Ringkasan Paket Sembako *dapat disesuaikan dengan kebutuhan anda (check via whatsapp) Mth Fashion : Untuk belanja Online kebutuhan Sandang/Fashion Keluarga, Untuk produk-produk bisa Anda lihat di Instagram : https://www.instagram.com/mth.fashion.online.shop/  (updated) Untuk Informasi Lebih lanjut bisa kontak Nomor Whatsapp masing-masing. Selamat Berbelanja secara Online | Jangan lupa informasikan ke keluarga dan rekan-rekan anda.

Partisipasi Pemilu 2019 Kota Jogja 84,9 Persen & Kulon Progo 86, 49 Persen

Yogyakarta (ANTARA) - Kota Yogyakarta mencatat tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu 2019 yang cukup tinggi yaitu mencapai 84,9 persen khususnya untuk pemilihan presiden dan wakil presiden. “Tingkat partisipasi tersebut melebihi target yang kami tetapkan yaitu 77,5 persen. Mungkin ini adalah tingkat partisipasi pemilu yang paling tinggi pernah diraih,” kata Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta Hidayat Widodo, di Yogyakarta, Kamis. Pada pemilihan presiden dan wakil presiden, KPU Kota Yogyakarta mencatat total jumlah pemilih yang memiliki hak pilih mencapai 324.903 orang, namun pemilih yang menggunakan hak pilihnya tercatat sebanyak 275.552 orang. Berdasarkan data, ada sebanyak 47.249 pemilih dalam daftar pemilih tetap (DPT) yang tidak menggunakan hak suaranya, sedangkan dalam daftar pemilih tetap tambahan terdapat 2.096 pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya, serta enam pemilih dalam daftar pemilih khusus yang tidak menggunakan hak suaranya. Ia pun berhara...

Ada Pesawat 'Lanjut Usia' Mendarat di Yogya

Yogyakarta - Sebuah pesawat tua mendarat mulus di Bandara Adisutjipto Yogyakarta. Karena bentuknya yang kurang lazim di era sekarang, pesawat Dakota DC3 ini menarik perhatian petugas bandara dan pengguna jasa bandara. Pesawat tua itu digunakan dalam napak tilas perjalanan bersejarah perempuan pilot legendaris, Jean Gardner Batten. Tanggal 5 Oktober 1936 atau 76 tahun silam, ia menerbangkan pesawat jenis tersebut dari Inggris ke Selandia Baru. Saat landing di Indonesia, pesawat singgah ke Yogyakarta dan Kupang. DC3 merupakan pesawat buatan Douglas Aircraft Company. Diproduksi tahun 1935, lalu mulai digunakan secara komersial setahun berikutnya. Pesawat ini juga digunakan dalam perang, terutama Perang Dunia II, Perang Korea, Perang Vietnam dan perang lainnya di berbagai belahan dunia pada rentang waktu 1930-1970-an. Pesawat dengan rentang sayap 28,96 meter dan panjang 19,63 meter itu tiba di Bandara Yogyakarta sekitar pukul 13.40 WIB. Meleset dari perkiraan semula, yakni 12.40 W...